Selangkapnya...
![]() | Pita merah putih melambangkan bendera pusaka dan kebangsaan Indonesia |
![]() | Bambu runcing kiri kanan perisai melambangkan perjuangan dan kepahlawanan rakyat yang heroik melawan penjajahan |
Kota Binjai berbatasan langsung dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Langkat, serta berada pada Jalur Trasportasi Utama yang menghubungkan Propinsi Sumatera Utara dengan Propinsi Nangroe Aceh Darurralam (NAD) serta ke Objek Wisata Bukit Lawang Kabupaten Langkat.
Secara geografis Kota Binjai terletak pada posisi 3o 31' 31" - 3o 40' 2" LU dan 98o 27' 3" - 98o 32' 32" BT dan terletak ± 28 M di atas permukaan laut.

Asal Kota Binjai berdasarkan penuturan orang – orang tua yang kini sudah tiada yang diperkirakan mengetahui sejarah asal usul Kota Binjai ,
baik yang dikisahkan atau yang diriwayatkan dalam berbagai tulisan yang pernah dijumpai.bahwa Kota Binjai itu berasal dari sebuah Kampung yang kecil terletak di pinggir Sungai Bingai.
Pada tahun 1823 Gubernur Inggris yang berkedudukan di Pulau Penang telah mengutus Jhon Anderson untuk pergi ke pesisir Sumatera Timur dan dari catatannya disebutkan sebuah Kampung yang bernama Ba Bingai (Menurut buku Mission to The Eastcoast Sumatera – Edinburg 1826). Sebenarnya sejak tahun 1822, Binjai telah dijadikan bandar/pelabuhan dimana hasil pertanian lada yang diekspor adalah dari perkebunan lada di sekitar Ketapangai (Pungai).
Upacara adat dalam rangka pembukaan kampung tersebut diadakan di bawah sebatang pohon “BINJAI“ yang rindang dan batangnya amat besar, tumbuh kokoh di pinggir Sungai Bingai yang bermuara ke Sungai yang dahulunya cukup besar dan dapat melayari sampan – sampan besar yang berkayuh.
Disekitar pohon Binjai yang besar itulah kemudian dibangun beberapa rumah yang lama kelamaan menjadi besar dan luas yang akhirnya berkembang menjadi “ BANDAR “ atau pelabuhan yang ramai didatangi tongkang – tongkang yang datang dari Stabat, Tanjung Pura dan juga dari Semenanjung Malaka, kemudian nama Pohon Binjai itulah yang akhirnya melekat menjadi nama Kota Binjai yaitu sebangsa pohon embacang.
Pada masa penjajahan Belanda Tahun 1864 Daerah Deli telah dicoba ditanami tembakau oleh pioner Belanda bernama .J.Nienkyis dan 1866 didirikan Deli Maatschappiy. Usaha untuk menguasai Tanah Deli oleh orang Belanda tidak terkecuali dengan menggunakan politik pecah belah melalui pengangkatan datuk – datuk. Usaha ini diketahui oleh Datuk Kocik , Datuk Jalil dan Suling Barat yang tidak mau bekerja sama dengan Belanda bahkan melakukan perlawanan. Dibawah kepemimpinan Datuk Sunggal bersama rakyat di Timbang Langkat (Binjai) dibuat Benteng pertahanan untuk menghadapi Belanda.
Dengan tindakan datuk Sunggal ini Belanda merasa terhina dan memerintahkan Kapten Koops untuk menumpas para Datuk yang menentang Belanda. Dan pada 17 Mei 1872 terjadilah pertempuran yang sengit antara Datuk/Masyarakat dengan Belanda.Peristiwa perlawanan inilah yang menjadi tonggak sejarah dan ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Binjai.
Sumber : www.binjai.go.id (situs resmi pemerintah kota binjai)
Rambutan ini berasal dari daerah Binjai, Sumatera Utara. Rasanya manis segar sehingga tak salah jika rambutan ini dilepas sebagai varietas rambutan unggul. Buahnya tampak menarik dengan warna merah mencolok dan berbentuk bulat agak lonjong. Kulit buahnya tebal dan agak keras. Rambut buahnya panjang, jarang, kasar, dan berwarna merah dengan ujung hijau. Daging buahnya berwarna putih, kenyal, dan ngelotok..
Ikon kota







